Koran nasional. |Selamat Hari Jadi Riau ke-69. Hari ini kita merayakan Riau yang berusia 69 tahun. Namun di balik spanduk, acara seremoni, dan ucapan selamat, ada hal yang tidak boleh kita lewatkan:
Sudah sejauh mana pemerataan pembangunan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat Riau?
Sebab Riau hari ini masih menyimpan cerita lama tentang lubang jalan yang masih lebar menganga, jalan-jalan yang masih banyak belum diaspal, dan ketimpangan infrastruktur yang kian terasa. Ada daerah yang tumbuh dengan cepat, sementara daerah lain masih menunggu giliran untuk sekadar menikmati pembangunan hak yang semestinya mereka dapatkan.
Berapa banyak anak muda Riau hari ini yang terkendala dalam melanjutkan pendidikannya?
Perihal pendidikan, kita bicara tentang generasi muda sebagai masa depan Riau. Kita bicara tentang kualitas sumber daya manusia. Tetapi selama dua tahun belakangan ini, kesempatan beasiswa yang seharusnya menjadi pintu bagi mahasiswa baru justru tidak hadir sebagaimana yang diharapkan, beasiswa hanya diperuntukkan bagi mahasiswa lanjutan saja. Beasiswa bukan sekadar angka dalam anggaran. Beasiswa adalah tentang mimpi anak petani yang ingin menjadi sarjana. Tentang anak kampung yang ingin meraih cita-citanya untuk membanggakan dan membahagiakan orang tua. Jangan sampai pendidikan hanya dirasakan bagi mereka yang punya,sementara bagi yang tak punya hanya menjadi ilusi belaka.
Kekayaan Riau yang kata orang "di atas minyak, di bawah minyak" ke mana perginya semua?
pendapatan Riau pergi ke pusat, tetapi sebagian kecil kembali ke Riau, yang tersisa seolah hanya angka nol sekian.
Kita kaya sumber daya, tapi jangan sampai miskin pemerataan. Kita besar dalam kontribusi, tapi kecil dalam pengembalian. Kita daerah yang kaya, minyak di atas dan di bawah tanah, tapi tak semua rakyatnya merasakan berkah.
Bukan hanya bertanya, apa yang sudah dibangun? Tetapi juga bertanya, apakah pembangunan sudah merata dijalankan?
Bukan hanya menghitung berapa kilometer jalan yang telah dibangun, tetapi menghitung berapa banyak jalan rusak yang sudah membahayakan masyrakat. Bukan hanya menghitung berapa rupiah anggaran untuk pendidikan, tetapi menghitung berapa anak Riau yang akan bisa kuliah karena hadirnya pemerintah memperhatikan. Dan bukan hanya menghitung berapa besar pendapatan yang dikirim ke pusat, tetapi memastikan berapa besar keadilan yang kembali dan melekat.
Semoga ke depan, pembangunan tak hanya menjulang tinggi, tapi juga menjangkau jauh ke pelosok negeri. Semoga beasiswa tak hanya bagi yang telah melangkah, tapi juga membuka jalan bagi yang baru memulai langkah. Dan semoga kekayaan Riau tak hanya membuat pusat tersenyum riang, tapi juga membuat rakyat di tanah ini hidup lebih sejahtera dan tenang.
69 tahun Riau bukan sekadar angka usia. Ia adalah 69 tahun perjalanan, 69 tahun perjuangan, dan 69 tahun refleksi tentang pemerataan. Maka pada usia Riau yang ke-69 ini, barangkali yang kita butuhkan bukan sekadar perayaan, tetapi perenungan.
Muhammad Adam Alfarisy Kader HMI KOMISARIAT SUPER
Dirgahayu Riau.
